10/27/2013
Teater Sastra Presents : Multimonolog Selingkuh
Multimonolog Selingkuh
by I. Yudhi Soenarto
Saturday, 26th October 2013
Taman Ismail Marzuki
I've always wanted to watch theatre. I'm really honored and glad to have the chance to break my theatrical virginity to Multimonolog Selingkuh by Teater Sastra UI.
Multimonolog Selingkuh tells the story through seven perspectives: a village girl turned independent career woman named Ida, a sadomasochist drummer named Zaki, a successful businessman named Hendrik, a lawyer named Fahry, a shaman named Ki Pujo Asmoro, a feminist activist named Rita, and a film director named Vijay. The whole story is centered around Ida, Zaki, and Hendrik, whilst the other four talked about how the story of those three is relevant in society matters.
I can't really explain much about the storyline of this play because it's too intricate to put into such limited words, but all I can say this play is sick. Sick in two connotations, sick as in really breathtaking and marvellous, and sick as in disgusting and disturbing. The play actually warned the audience of how disturbing it's going to be by applying age limits (17+), but truthfully, I did not see any of those coming. You may cover your ears at some times, if you're one of those people who doesn't stand graphic sadism. Despite the disturing parts, I love how the tension in the play was built very carefully, and how every details in the character, lighting and music supports the whole play very nicely. My only critics for this play is that one time when the lights changed too fast, I just assume that the character supposed to stopped talking by then, and the characters slipped their tongues a few times, but it's actually not that bad considering that you supposed to talk on a 3-hour play with no breaks.
Props to Yoga Mohamad who played Hendrik Panggabean because his bataknese was
straight on,
and props to Rachman Muchlas who played Ahmad Zakharia because his gestures were so good, I could actually predict that he's a psychopath from the minute he talked. Also, props to all the cast and crews for making Multimonolog Selingkuh happened, and thank you for giving me the beautiful first-time theatre experience, especially Mr. Yudhi Soenarto, golly I can't wait for your class, mister, because you are a downright, excuse my words, badass.
Here are some photos that I took during the play.
 |
Ki Pujo Asmoro, the Shaman
|
 |
Rita Subroto, the feminist
|
 |
Ida, the confused
|
 |
Vijay Benggali, "Keep It Simple and Stupid"
|
 |
Fahry, the ironic lawyer
|
 |
Zaki si Binatang Buas
|
 |
Hendrik's not just a guy from Tarutung
|
 |
| Despair |
"Selingkuh itu hak"
Labels: #art, #theatre #review
back to top
7/07/2013
Pulpen Part Deux;Impase
PUisi Lanjut cerPEN
*penasaran sama yang lain? Diklik aja yooo liriknya di atas. Iya itu lagunya Meggy Z yang Jatuh Bangun*
Impase
Sudah tahu luka di dalam dadaku, sengaja kau siram dengan
air garam, hai semesta! Sudah tidak cukupkah sayatan-sayatan pilu di tanganku
mengakhiri semuanya? Sudah tidak cukupkah senyuman palsu di wajahku menutupi
semuanya? Hidupku telah menemui impasenya yang aswad dan kelam.
---
Aku tidak tahu mengapa aku mulai merasakan hal-hal aneh ini.
Aku mulai merasakan pusing teramat ini sejak bulan lalu, sejak ibu masuk rumah
sakit lagi. Meninggalnya ayah tidak membantu apapun. Adikku ang baru saja
memasuki umur tujuh tahun bahkan belum mengerti arti kematian. Akupun bahkan
belum tahu.
Kanker ibu makin parah, kata orang-orang medis itu. Namun
ibu masih bisa tersenyum melihat aku dan adikku saat kami menjenguknya. Ibu
memiliki tendensi untuk melihat semua hal dari sisi positif. Hal itu yang aku
kagumi dari ibuku. Dalam hal lain, pusingku makin menjadi-jadi. Adikku pernah
menemukanku terbaring tidak sadar di kamar mandi. Mungkin aku terlalu lelah.
---
Ibu sudah tidak ada. Matahariku hanya adikku yan masih
sering bertanya, “Kak, ibu kemana sih? Aku kangen.”. Selalu saja kujawab dengan
“Ibu sudah ada di atas sana, dek. Kita akan bertemu ibu lagi kok.”, lalu aku
menangis dalam sunyi. Rumah ini pun sunyi. Hanya tiga kepala yang terkadang membuat
suara. Nenek sekarang tinggal bersama kami. Sampai aku menyelesaikan SMAku.
Lalu, kami akan pindah ke rumah nenek. Semua terasa biasa, namun aku, bahkan
adikku tahu, bahwa semua tidak biasa.
Setahun sudah lewat sejak ibu tidak ada. Semua terasa biasa,
namun aku makin parah. Kepalaku makin sering pusing, badanku makin sering
lunglai, tidak sadar. Otakku sekarang ditemani suara bising , layaknya radio
rusak. Aku mulai menjauh dari teman-temanku, menutup diri.
---
Tumben rumahku ramai. Nenek mendatangiku, terisak, “Adikmu
tadi mengalami kecelakaan di depan sekolahnya. Nenek tadi sedang mencari uang
kecil untuk transportasi pulang. Nenek tidak berani menelpon kamu, melihat
kondisimu…”. Aku menjerit. “Sudah
saatnya” “Suara siapa itu?” Nenekku menatap wajahku dengan muka bingung. “Tadi..
Bisikan itu”. Nenek menggeleng perlahan.
---
Depresi mungkin, aku
membacanya di perpustakaan, katanya remaja sering dan lebih mudah mengalami
depresi. Ya, mungkin. Mungkin bisikan-bisikan aneh itu juga hasil halusinasi
dari depresiku itu. Aku tidak gila. Iya kan?
---
Aku sudah kosong. Aku tinggal dengan nenek sekarang. Aku
bahkan sudah tidak peduli. Nenekpun nampaknya sudah tidak peduli, sekarang
nenek hanya terkapar di kamarnya. Bisikan-bisikan itu sudah makin jelas.
Mungkin benar, aku sudah gila. Hidupku telah menemui impasenya yang aswad dan
kelam
---
“Tok tok” Seperti ada yang mengetuk pintu. Nenek masih saja
di kamarnya sejak tadi malam. Bisikan-bisikan itu menyuruhku untuk membukanya.
Aku bahkan tidak punya kemauan untuk diriku sendiri, aku sudah dikontrol suara
di pikiranku. Saat kubuka pintu, sinar terang menyorotku secara tiba-tiba.
Badanku terasa ringan, bisikan-bisikan itu tertawa. Aku menghilang, entah
kemana. Semuanya gelap.
Labels: #art, #literature
back to top